Adat


SUKU ADAT TORAJA

SUKU TORAJA

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).

(more…)

Advertisements

peta_indonesia1

Suku Jawa

Suku bangsa Jawa, adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tetapi di provinsi Jawa Barat banyak ditemukan Suku Jawa, terutama di Kabupaten Indramayu dan Cirebon yang mayoritas masyarakatnya merupakan orang-orang Jawa yang berbahasa dan berbudaya Jawa, dan di Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak diketemukan. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger.

 

Bahasa

Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah polling yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur dan selebihnya terutama bahasa Jawa.

Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.

Kepercayaan

Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga banyak. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.

Profesi

Di Indonesia, orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa, orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri, banyak diantara suku jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu, dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang.

Stratifikasi Sosial

Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa dan India.

Seni

Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Tetapi pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula.

Stereotipe orang Jawa

Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai sukubangsa yang sopan dan halus.[1] Tetapi mereka juga terkenal sebagai sukubangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.

Tokoh-tokoh Jawa

 

A. Upacara Ngirab/Rebo Wekasan

Upacara ini ditandai dengan berziarahnya masyarakat setempat ke makam Sunan Kalijaga, yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, karena waktu tersebut dianggap hari yang paling baik untuk menghilangkan bencana dan kemalangan dalam hidup manusia. Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan berbagai pertandingan seperti lomba mendayung dan sebagainya. Upacara ini biasa dilaksanakan di sungai Drajat, Kota Cirebon.

B. Upacara Maulud Nabi Muhammad Saw.

Upacara ini adalah merupakan upacara keagamaan. Maulud Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW dimana sejumlah masyarakat berkumpul berdatangan dari berbagai daerah di luar Kota Cirebon untuk mengikuti upacara tersebut. Setelah selesai upacara dilanjutkan dengan ziarah ke makam para wali dan kramat-kramat lainnya, baik dari masyarakat Cirebon maupun masyarakat dari luar daerah. Di tiap daerah pun diadakan peringatan Maulud Nabi Muhammad Saw, dengan cara pengajian dan pembacaan solawat kepada Nabi Muhammad Saw disertai ceramah keagamaan.

C. Upacara Adat Nyalawean

Upacara Nyalawean merupakan upacara keagamaan untuk memperingati hari lahirnya Nabi besar Muhammad SAW yang diselenggarakan di alun-alun desa Trusmi , Kabupaten Cirebon selama 5 hari. Upacara ini dilaksanakan 12 hari setelah peringatan yang sama di keraton Cirebon. Selain dilaksanakannya upacara keagamaan, juga mengadakan ziarah ke makam para leluhur orang Trusmi agar memperoleh rahmat, kesejahteraan serta kebahagiaan.

D. Upacara Peringatan Isro Mi’raj

Di setiap daerah di Jawa Barat khususnya bagi umat Islam, setiap tanggal 27 bulan Rajab biasa dilakukan peringatan Isro Mi’raj. Isro yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari masjidil Haram Mekah ke mesjidil Aqso. Sedangkan Mi’raj adalah peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke langit ke tujuh dan diberikannya wahyu untuk melaksanakan sholat 5 waktu sehari. Pada pelaksanaan peringatan Isra Miraj biasa diadakan pengajian, pembacaan solawat dan ceramah keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar manusia dalam menjalankan hidupnya harudisertai dengan peningkatan ibadah terhadap Allah SWT. Seusai kegiatan tersebut biasa diadakan makan nasi tumpeng bersama.

E. Upacara Lebaran 1 Syawal

Setelah puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, pada tanggal 1 Syawal merupakan hari raya Idul fitri atau hari lebaran, yaitu hari dimana umat Islam merayakan hari yang penuh kesucian dan kebebasan, bebas dari puasa dan bebas dari dosa. Pagi hari setelah solat subuh, umat Islam yang merayakan Lebaran solat berjamaah di lapangan atau di mesjid, mendengarkan ceramah dan berdo’a. Setelah itu bersalaman saling memaafkan. Begitu pula sesampainya di rumah diadakan upacara sungkeman, orang tua duduk berdampingan, anak-anaknya sungkem bersalaman saling memaafkan antara anggota keluarga. Setelah itu makan bersama yaitu makan khas Lebaran “ketupat” beserta lauk-pauk dan makanan lainnya khas lebaran. Selanjutnya mereka dengan baju barunya pergi ke tetangga dan kerabat untuk bersilaturahmi saling memaafkan sambil membawa makanan atau hadiah lainnya. Ada juga yang berziarah terlebih dahulu ke makam keluarga untuk mendo’akan para arwah. Masyarakat Sunda umumnya melaksanakan lebaran ini dengan penuh hikmah dan semangat.

A. Upacara Adat Seren Taun

Upacara Seren Taun yaitu upacara adat yang intinya mengangkut padi (ngakut pare) dari sawah ke leuit (lumbung padi) dengan menggunakan pikulan khusus yang disebut rengkong dengan diiringi tabuhan musik tradisional. Selanjutnya di adakan riungan (pertemuan) antara sesepuh adat/pemuka masyarakat dengan pejabat pemerintah setempat. Dalam riungan tersebut antara lain Disampaikan kabar gembira kepada pejabat setempat mengenai keberhasilan panen (hasil tani) dan kesejahteraan masyarakat yang dicapai dalam kurun waktu yang telah dilalui. Salah satu ciri khas upacara seren taun adalah melalukan seba, yaitu menyampaikan aneka macam hasil panen kepada pejabat setempat agar ikut menikmati hasil tani mereka. Salah satu tujuan upacara seren taun ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilannya bertani serta mengharapkan pada masa mendatang akan lebih berhasil lagi. Upacara seren taun dapat dijumpai di Kasepuhan Sirnarasa Cisolok-Sukabumi Selatan, Cigugur Kuningan dan Baduy-Lebak/Banten.

B. Upacara Adat Kawin Tebu

Upacara tradisional Kawin Tebu dilaksanakan seperti upacara perkawinan manusia, yang mana satu batang tebu dikawinkan dengan tebu yang lainnya dengan suatu prosesi upacara. Upacara ini dilaksanakan setelah panen menjelang tebu dimasukan ke pabrik untuk diproses menjadi gula, atau awal musim tanam tebu. Menjelang diadakan perkawinan tebu ditampilkan berbagai atraksi kesenian yang diikuti oleh masyarakat setempat, terutama oleh para pekerja pabrik gula dan keluarganya. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tanam yang dicapai serta memohon kepada tuhan YME. agar hasil tanam yang akan datang lebih baik lagi. Upacara ini terdapat di daerah Kadipaten, Kabupaten Majalengka.

C. Upacara Adat Ampih Pare

Upacara Ampih Pare adalah upacara menyimpan hasil panen padi dari sawah/ladang ke tempat penyimpanan padi (pare) yang disebut leuit. Pada pelaksanaannya para petani dengan memakai pakaian adat yang khas, memikul hasil panennya dengan menggunakan alat pikul yang disebut “rengkong”. Selama perjalanan alat pikul tersebut menimbulkan bunyi yang khas, upacara ampih pare merupakan suatu prosesi pertunjukan kesenian yang khas. Terdapat di Kabupaten Sumedang, Cianjur, Karawang dan Subang.

D. Upacara Adat Ngarot

Upacara Ngarot dilaksanakan pada saat dimulainya musim tanam , yaitu pada awal musim penghujan, saat musim tanam yang baik untuk menggarap tanah palawija di Ladang. Pelaksanaannya dengan cara mengadakan keramaian berupa arak-arakan menuju Bale Desa. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon kepada sang Pencipta agar hasil berladangnya diberkahi dan dilimpahkan hasilnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Upacara ini terdapat di daerah Indramayu.

E. Upacara Adat Sedekah Bumi

Upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang diterima oleh masyarakat berhasil baik. Upacara tradisi seperti ini terdapat di Cirebon, pelaksanaan upacara ini di Makam Sunan Gunung Jati yang dipimpin oleh Ki Penghulu. Setelah upacara ini selesai, biasanya di Alun-alun diselenggarakan berbagai kesenian, sebagai acara puncaknya pergelaran Wayang Orang.

F. Upacara Adat Pesta Laut

Upacara Pesta laut biasanya diselenggarakan di daerah pesisir jawa barat seperti Pelabuhan Ratu (Sukabumi) dan Pangandaran (Ciamis). Upacara ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas hasil laut yang diperoleh para nelayan, juga sebagai ungkapan permohonan agar para nelayan selalu selamat dan sehat serta memperoleh hasil laut yang melimpah. Di dalam upacara tersebut perahu-perahu nelayan dihiasi dengan berbagai ornamen berwarna-warni yang dinaiki oleh para nelayan dan dilengkapi sesajen. Yang unik dalam upacara ini adalah para nelayan menghadiahkan kepala kerbau yang sudah dibungkus kain putih kepada penguasa laut sebagai penolak bala. Perahu yang membawa sesajen dan kepala kerbau berada di posisi paling depan dan diikuti perahu-perahu lainnya yang ditumpangi para nelayan dan keluarganya serta masyarakat setempat. Perahu melaju ke tengah laut mereka bersorak- ria sambil memainkan alat musik serta menyanyikan lagu-lagu pujian terhadap Tuhan pencipta alam semesta, mereka menikmati upacara tersebut. Sebelum kepala kerbau dihanyutkan di tengah laut, mereka berdo’a bersama untuk keselamatan. Pesta laut diadakan setahun sekali.

Adat istiadat yang diwariskan leluhurnya pada masyarakat Sunda masih dipelihara dan dihormati. Dalam daur hidup manusia dikenal upacara-upacara yang bersifat ritual adat seperti: upacara adat Masa Kehamilan, Masa Kelahiran, Masa Anak-anak, Perkawinan, Kematian dll. Demikian juga dalam kegiatan pertanian dan keagamaan dikenal upacara adat yang unik dan menarik. Itu semua ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur dan mohon kesejahteraan dan keselamatan lahir bathin dunia dan akhirat. Beberapa kegiatan upacara adat di Jawa Barat dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Upacara Daur Hidup Manusia
A.Upacara Adat Masa Kehamilan

1. Upacara Mengandung Empat Bulan
Dulu Masyarakat Jawa Barat apabila seorang perempuan baru mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil, masih disebut mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut hamil. Upacara mengandung Tiga Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil.
Namun sekarang kecenderungan orang-orang melaksanakan upacara pada saat kehamilan menginjank empat bulan, karena pada usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.

2. Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban
Upacara Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam.
Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama adalah rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut sampai mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dikandung dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin, seperti keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.

Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.

3. Upacara Mengandung Sembilan Bulan
Upacara sembuilan bulan dilaksanakan setelah usia kandungan masuk sembilan bulan. Dalam upacara ini diadakan pengajian dengan maksud agar bayi yang dikandung cepat lahir dengan selamat karena sudah waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai simbul dari upacara ini yaitu supaya mendapat kemudahan waktu melahirkan, lolos. Bubur lolos ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau makanan lainnya.

4. Upacara Reuneuh Mundingeun
Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan,bahkan ada yang sampai 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut Reuneuh Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting. Upacara ini diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan seperti kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pada pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung beurang sambil membaca doa dibawa ke kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat seperti kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh anak-anak yang memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian oleh indung beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan upacara ini sudah jarang dilaksanakan.

B. Upacara Kelahiran dan Masa Bayi

1. Upacara Memelihara Tembuni
Tembuni/placenta dipandang sebagai saudara bayi karena itu tidak boleh dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara waktu menguburnya atau menghanyutkannya ke sungai.
Bersamaan dengan bayi dilahirkan, tembuni (placenta) yang keluar biasanya dirawat dibersihkan dan dimasukan ke dalam pendil dicampuri bumbu-bumbu garam, asam dan gula merah lalu ditutup memakai kain putih yang telah diberi udara melalui bambu kecil (elekan). Pendil diemban dengan kain panjang dan dipayungi, biasanya oleh seorang paraji untuk dikuburkan di halaman rumah atau dekat rumah. Ada juga yang dihanyutkan ke sungai secara adat. Upacara penguburan tembuni disertai pembacaan doa selamat dan menyampaikan hadiah atau tawasulan kepada Syeh Abdulkadir Jaelani dan ahli kubur. Di dekat kuburan tembuni itu dinyalakan cempor/pelita sampai tali pusat bayi lepas dari perutnya.. Upacara pemeliharaan tembuni dimaksudkan agar bayi itu selamat dan kelak menjadi orang yang berbahagia.

2. Upacara Nenjrag Bumi
Upacara Nenjrag Bumi ialah upacara memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, atau cara lain yaitu bayi dibaringkan di atas pelupuh (lantai dari bambo yang dibelah-belah ), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di dekat bayi. Maksud dan tujuan dari upacara ini ialah agar bayi kelak menjadi anak yang tidak lekas terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.

3 .Upacara Puput Puseur
Setelah bayi terlepas dari tali pusatnya, biasanya diadakan selamatan. Tali pusat yang sudah lepas itu oleh indung beurang dimasukkan ke dalam kanjut kundang . Seterusnya pusar bayi ditutup dengan uang logam/benggol yang telah dibungkus kasa atau kapas dan diikatkan pada perut bayi, maksudnya agar pusat bayi tidak dosol, menonjol ke luar. Ada juga pada saat upacara ini dilaksanakan sekaligus dengan pemberian nama bayi. Pada upacara ini dibacakan doa selamat, dan disediakan bubur merah bubur putih.
Ada kepercayaan bahwa tali pusat (tali ari-ari) termasuk saudara bayi juga yang harus dipelihara dengan sungguh-sungguh. Adapun saudara bayi yang tiga lagi ialah tembuni, pembungkus, dan kakawah. Tali ari, tembuni, pembungkus, dan kakawah biasa disebut dulur opat kalima pancer, yaitu empat bersaudara dan kelimanya sebagai pusatnya ialah bayi itu. Kesemuanya itu harus dipelihara dengan baik agar bayi itu kelak setelah dewasa dapat hidup rukun dengan saudara-saudaranya (kakak dan adiknya) sehingga tercapailah kebahagiaan.

4. Upacara Ekah
Sebetulnya kata ekah berasal dari bahasa Arab, dari kata aqiqatun “anak kandung”. Upacara Ekah ialah upacara menebus jiwa anak sebagai pemberian Tuhan, atau ungkapan rasa syukur telah dikaruniai anak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mengharapkan anak itu kelak menjadi orang yang saleh yang dapat menolong kedua orang tuanya nanti di alam akhirat. Pada pelaksanaan upacara ini biasanya diselenggarakan setelah bayi berusia 7 hari, atau 14 hari, dan boleh juga setelah 21 hari. Perlengkapan yangb harus disediakan adalah domba atau kambing untuk disembelih, jika anak laki-laki dombanya harus dua (kecuali bagi yang tidak mampu cukup seekor), dan jika anak perempuan hanya seekor saja.
Domba yang akan disembelih untuk upacara Ekah itu harus yang baik, yang memenuhi syarat untuk kurban. Selanjutnya domba itu disembelih oleh ahlinya atau Ajengan dengan pembacaan doa selamat, setelah itu dimasak dan dibagikan kepada handai tolan.

5. Upacara Nurunkeun
Upacara Nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah, maksudnya mengenal lingkungan dan sebagai pemberitahuan kepada tetangga bahwa bayi itu sudah dapat digendong dibawa berjalan-jalan di halaman rumah. Upacara Nurun keun dilaksanakan setelah tujuh hari upacara Puput Puseur. Pada pelaksanaannya biasa diadakan pengajian untuk keselamatan dan sebagai hiburannya diadakan pohon tebu atau pohon pisang yang digantungi aneka makanan, permainan anak-anak yang diletakan di ruang tamu. Untuyk diperebutkan oleh para tamu terutama oleh anak-anak.

6. Upacara Cukuran/Marhabaan
Upacara cukuran dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis. Upacara cukuran atau marhabaan juga merupakan ungkapan syukuran atau terima kasih kepada Tuhan YME yang telah mengkaruniakan seorang anak yang telah lahir dengan selamat. Upacara cukuran dilaksanakan pada saat bayi berumur 40 hari.
Pada pelaksanaannya bayi dibaringkan di tengah-tengah para undangan disertai perlengkapan bokor yang diisi air kembang 7 rupa dan gunting yang digantungi perhiasan emas berupa kalung, cincin atau gelang untuk mencukur rambut bayi. Pada saat itu mulailah para undangan berdo’a dan berjanji atau disebut marhaban atau pupujian, yaitu memuji sifat-sifat nabi Muhammad saw. dan membacakan doa yang mempunyai makna selamat lahir bathin dunia akhirat. Pada saat marhabaan itulah rambut bayi digunting sedikit oleh beberapa orang yang berdoa pada saat itu.

7. Upacara Turun Taneuh
Upacara Turun Taneuh ialah upacara pertama kali bayi menjejakkan kakinya ke tanah, diselenggarakan setelah bayi itu agak besar, setelah dapat merangkak atau melangkah sedikit-sedikit. Upacara ini dimaksudkan agar si anak mengetahui keduniawian dan untuk mengetahui akan menjadi apakah anak itu kelak, apakah akan menjadi petani, pedagang, atau akan menjadi orang yang berpangkat.
Perlengkapan yang disediakan harus lebih lengkap dari upacara Nurunkeun, selain aneka makanan juga disediakan kain panjang untuk menggendong, tikar atau taplak putih, padi segenggam, perhiasan emas (kalung, gelang, cincin), uang yang terdiri dari uang lembaran ratusan, rebuan, dan puluh ribuan.
Jalannya upacara, apabila para undangan telah berkumpul diadakan doa selamat, setelah itu bayi digendong dan dibawa ke luar rumah. Di halam rumah telah dipersiapkan aneka makanan, perhiasan dan uang yang disimpan di atas kain putih, selanjutnya kaki si anak diinjakan pada padi/ makanan, emas, dan uang, hal ini dimaksudkan agar si anak kelak pintar mencari nafkah. Kemudian anak itu dilepaskan di atas barang-barang tadi dan dibiarkan merangkak sendiri, para undangan memperhatikan barang apa yang pertama kali dipegangnya. Jika anak itu memegang padi, hal itu menandakan anak itu kelak menjadi petani. Jika yang dipegang itu uang, menandakan anak itu kelak menjadi saudagar/pengusaha. Demikian pula apabila yang dipegangnya emas, menandakan anak itu kelak akan menjadi orang yang berpangkat atau mempunyai kedudukan yang terhormat.

C. Upacara Masa Kanak-kanak

1. Upacara Gusaran
Gusaran adalah meratakan gigi anak perempuan dengan alat khusus. Maksud upacara Gusaran ialah agar gigi anak perempuan itu rata dan terutama agar nampak bertambah cantik. Upacara Gusaran dilaksanakan apabila anak perempuan sudah berusia tujuh tahun. Jalannya upacara, anak perempuan setelah didandani duduk di antara para undangan, selanjutnya membacakan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian Indung beurang melaksanakan gusaran terhadap anak perempuan itu, setelah selesai lalu dibawa ke tangga rumah untuk disawer (dinasihati melalui syair lagu). Selesai disawer, kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Biasanya dalam upacara Gusaran juga dilaksanakan tindikan, yaitu melubangi daun telinga untuk memasang anting-anting, agar kelihatannya lebih cantik lagi.

2. Upacara Sepitan/Sunatan
Upacara sunatan/khitanan dilakukan dengan maksud agar alat vitalnya bersih dari najis . Anak yang telah menjalani upacara sunatan dianggap telah melaksanakan salah satu syarat utama sebagai umat Islam. Upacara Sepitan anak perempuan diselenggarakan pada waktu anak itu masih kecil atau masih bayi, supaya tidak malu. Upacara sunatan diselenggarakan biasanya jika anak laki-laki menginjak usia 6 tahun. Dalam upacara sunatan selain paraji sunat, juga diundang para tetangga, handai tolan dan kerabat..
Pada pelaksanaannya pagi-pagi sekali anak yang akan disunat dimandikan atau direndam di kolam sampai menggigil (kini hal semacam itu jarang dilakukan lagi berhubung teknologi kesehatan sudah berkembang), kemudian dipangku dibawa ke halaman rumah untuk disunat oleh paraji sunat (bengkong), banyak orang yang menyaksikan diantaranya ada yang memegang ayam jantan untuk disembelih, ada yang memegang petasan dan macam-macam tetabuhan sambil menyanyikan marhaba. Bersamaan dengan anak itu disunati, ayam jantan disembelih sebagai bela, petasan disulut, dan tetabuhan dibunyikan . Kemudian anak yang telah disunat dibawa ke dalam rumah untuk diobati oleh paraji sunat. Tidak lama setelah itu para undangan pun berdatangan, baik yang dekat maupun yang jauh. Mereka memberikan uang/ nyecep kepada anak yang disunat itu agar bergembira dan dapat melupakan rasa sakitnya. Pada acara ini adapula yang menyelenggarakan hiburan seperti wayang golek, sisingaan atau aneka tarian.

D. Upacara Adat Perkawinan
Secara kronologis upacara adat perkawinan dapat diurut mulai dari adat sebelum akad nikah, saat akad nikah dan sesudah akad nikah

1. Upacara sebelum akad nikah
pada upacara ini biasanya dilaksanakan adat :
(1) Neundeun Omong : yaitu kunjungan orang tua jejaka kepada orang tua si gadis untuk bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak anak gadisnya akan dilamar.
(2) Ngalamar : nanyaan atau nyeureuhan yaitu kunjungan orang tua jejaka untuk meminang/melamar si gadis, dalam kunjungan tersebut dibahas pula mengenai rencana waktu penikahannya. Sebagai acara penutup dalam ngalamar ini si pelamar memberikan uang sekedarnya kepada orang tua si gadis sebagai panyangcang atau pengikat, kadang-kadang dilengkapi pula dengan sirih pinang selengkapnya disertai kue-kue & buah-buahan. Mulai saat itu si gadis telah terikat dan disebut orang bertunangan.
(3) Seserahan: yaitu menyerahkan si jejaka calon pengantin pria kepada calon mertuanya untuk dikawinkan kepada si gadis. Pada acara ini biasa dihadiri oleh para kerabat terdekat, di samping menyerahkan calon pengantin pria juga barang-barang berupa uang, pakaian, perhiasan, kosmetik dan perlengkapan wanita, dalam hal ini tergantung pula pada kemampuan pihak calon pengantin pria. Upacara ini dilakukan 1 atau 2 hari sebelum hari perkawinan atau adapula yang melaksanakan pada hari perkawinan sebelum akad nikah dimulai.
(4) Ngeuyeuk Seureuh: artinya mengerjakan dan mengatur sirih serta mengait-ngaitkannya. Upacara ini dilakukan sehari sebelum hari perkawinan, yang menghadiri upacara ini adalah kedua calon pengantin, orang tua calon pengantin dan para undangan yang telah dewasa. Upacara dipimpin oleh seorang pengetua, benda perlengkapan untuk upacara ini seperti sirih beranting, setandan buah pinang, mayang pinang, tembakau, kasang jinem/kain, elekan, dll semuanya mengandung makna/perlambang dalam kehidupan berumah tangga. Upacara ngeuyeuk seureuh dimaksudkan untuk menasihati kedua calon mempelai tentang pandangan hidup dan cara menjalankan kehidupan berumah tangga berdasarkan etika dan agama, agar bahagia dan selamat. Upacara pokok dalam adat perkawinan adalah ijab kabul atau akad nikah .

2. Upacara Adat Akad Nikah
Upacara perkawinan dapat dilaksanakan apabila telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam agama Islam dan adat. Ketentuan tersebut adalah: adanya keinginan dari kedua calon mempelai tanpa paksaan, harus ada wali nikah yaitu ayah calon mempelai perempuan atau wakilnya yang sah, ada ijab kabul, ada saksi dan ada mas kawin. Yang memimpin pelaksanaan akad nikah adalah seorang Penghulu atau Naib, yaitu pejabat Kantor Urusan Agama.
Upacara akad nikah biasa dilaksanakan di Mesjid atau di rumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya adalah kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang tua kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para undangan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai pria disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai pria membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita.

3. Upacara Adat sesudah akad nikah
a) Munjungan/sungkeman : yaitu kedua mempelai sungkem kepada kedua orang tua mempelai untuk memohon do’a restu.
b) Upacara Sawer (Nyawer): perlengkapan yang diperlukan adalah sebuah bokor yang berisi beras kuning, uang kecil (receh) /logam, bunga, dua buah tektek (lipatan sirih yang berisi ramuan untuk menyirih), dan permen. Pada pelaksanaannya kedua mempelai duduk di halaman rumah di bawah cucuran atap (panyaweran), upacara dipimpin oleh juru sawer. Juru sawer menaburkan isi bokor tadi kepada kedua pengantin dan para undangan sebagai selingan dari syair yang dinyanyikan olehnya sendiri. Adapun makna dari upacara nyawer tersurat dalam syair yang ditembangkan juru sawer, intinya adalah memberikan nasehat kepada kedua mempelai agar saling mengasihani, dan mendo’akan agar kedua mempelai mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya, hidup rukun sampai diakhir hayatnya.
c) Upacara Nincak Endog : atau upacara injak telur yaitu setelah upacara nyawer kedua mempelai mendekati tangga rumah , di sana telah tersedia perlengkapan seperti sebuah ajug/lilin, seikat harupat (sagar enau) berisikan 7 batang, sebuah tunjangan atau barera (alat tenun tradisional) yang diikat kain tenun poleng, sebuah elekan, sebutir telur ayam mentah, sebuah kendi berisi air, dan batu pipisan, semua perlengkapan ini mempunyai perlambang. Dalam pelaksanaannya lilin dinyalakan, mempelai wanita membakar ujung harupat selanjutnya dibuang, lalu mempelai pria menginjak telur, setelah itu kakinya ditaruh di atas batu pipisan untuk dibasuh air kendi oleh mempelai wanita dan kendinya langsung dihempaskan ke tanah hingga hancur. Makna dari upacara ini adalah menggambarkan pengabdian seorang istri kepada suaminya.
d) Upacara Buka Pintu : upacara ini dilaksanakan setelah upacara nincak endog, mempelai wanita masuk ke dalam rumah sedangkan mempelai pria menunggu di luar, hal ini menunjukan bahwa mempelai wanita belum mau membukakan pintu sebelum mempelai pria kedengaran mengucapkan sahadat. Maksud upacara ini untuk meyakinkan kebenarannya beragama Islam. Setelah membacakan sahadat pintu dibuka dan mempelai pria dipersilakan masuk. Tanya jawab antara keduanya dilakukan dengan nyanyian (tembang) yang dilakukan oleh juru tembang.
e) Upacara Huap Lingkung : Kedua mempelai duduk bersanding, yang wanita di sebelah kiri pria, di depan mempelai telah tersedia adep-adep yaitu nasi kuning dan bakakak ayam (panggang ayam yang bagian dadanya dibelah dua). Mula-mula bakakak ayam dipegang kedua mempelai lalu saling tarik menarik hingga menjadi dua. Siapa yang mendapatkan bagian terbesar dialah yang akan memperoleh rejeki besar diantara keduanya. Setelah itu kedua mempelai huap lingkung , saling menyuapi. Upacara ini dimaksudkan agar kedua mempelai harus saling memberi tanpa batas, dengan tulus dan ikhlas sepenuh hati.
Sehabis upacara huap lingkung kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan diapit oleh kedua orang tua mempelai untuk menerima ucapan selamat dari para undangan (acara resepsi).

E. Upacara Adat Kematian
Pada garis besarnya rangkaian upacara adat kematian dapat digambarkan sebagai berikut: memandikan mayat, mengkafani mayat, menyolatkan mayat, menguburkan mayat, menyusur tanah dan tahlilan, yaitu pembacaan do’a dan zikir kepada Allah swt. agar arwah orang yang baru meninggal dunia itu diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya, juga mendo’kan agar keluarga yang ditinggalkannya tetap tabah dan beriman dalam menghadapi cobaan. Tahlilan dilaksanakan di rumahnya, biasanya sore/malam hari pada hari pertama wafatnya (poena), tiluna (tiga harinya), tujuhna (tujuh harinya), matangpuluh (empat puluh harinya), natus (seratus hari), mendak taun (satu tahunnya), dan newu (seribu harinya).

Mengenal Upacara Adat Perkawinan
Suatu upacara adat perkawinan biasanya digunakn upacara adapt daerah asal mempelai.
Masyarakat betawi juga memiliki tata cara upacara asat perkawinan sendiri upcara memiliki serangkaian tata cara berikut :
1.ngeledengin. bila seorang pemuda naksir seorang gadisterlebih dahulu diasakan pendekatanterhadap seorang gadis. Tahaop ini disebut mgeledengin. Tujuannya salah untu mengetahui secra lebih jauh sifat dan keadaan gadis yg akn dijdkan seorang istri dlam melakukan ngledengin pihak keluarga laki-laki mengirim orang yg dipercaya atau pihak ketiga yang dsebut dngan makcomblang.tugas mak comblang adalah senagai penghubung antara sua keluarga yg mempunyai rencana menikahkan anaknya.
Pada masa lampau setiap keluarga yg mempunyai anak laki-laki yg telah akil baligh meminta bantuan mak comblanguntuk dicarikan seorang gadis untuk sijosohkan sengan anak laki-laki nya.
Ngledengin dapat dilakukan dengan
a.tugas ngeledengin dari pertana hingga terakhir diserahkan kepda mak comblang
b. awal ngeledengin dilakukan sendiri oleh pemuda , kemudian dilaporkan kepada orang tua nya delanjutnya orang tua menugaskan mak comnlang untuk meneruskan ngeledengin
c. orang tua mengintip untuk melihat seorang calon menantu perempuan untuk menentukan pilihannya ia menugaskan mak comblang untuk meneruskan ngeledengin
2. ngelamar. Setelah kedua belah pihak sepakat untuk menikahkan anaknya , kenudian dilanjutkan dengan acara ngelamar orang tua laki-laki mengutus orang dalam rombongan kecil uuntu melakukan lamaran tersebut pihak keluarga laki-laki membawa barang yang disebut barang bawaan dan barang bawaan dibawa oleh orang-orang yang ikut rombongan
Barang bawaan itu antara lain berupa:
-pisang raja 2 sisir yang diletakkan diatas nampan dan dihiasi kertas warna- warni
– roti tawar diletakkan diatas nampan san dihiasi kertas warna-warni
-uang sembah lamaran yang silengkapi dengan pakaian wanita, sperti baju , kain, selendang, dan sandal.
Rombongan pelamar tersiri dari:
– mak comblang sebagai penjuru bicara,
– 2 pasang pria dan wanita setenagah baya sebagai utudab untuk mewakili orang tua laki-laki , yaitu sepadang pria yaitu dri pihak ayah dan sepasang untk pihak ibu
Setelah rombongan tiba dirumah calon mempelai wanita kemudian rombongan diterima oleh tuan rumah diruang depan selanjutnya mak comblang menyampaikan maksud kedatangan nya oleh tuan rumah kemudian calon pengantin permpuan dihadirkan oleh para utusan si gadid harus melakukan sembah takzim dan cium tangan setelah itu diserahkan uang sembah lamaran yang khusus diserahkan kepada calon mempelai permpuan pada saat ngelamar tersebut ditanyakan oleh mak comblang tentang bebtuk mas kawin yang sihendaki oleh si gadis biasanya berupa kiasan midalnya di gadis minta bandeng seperangkat artinya sang gadis minta mas kawin berupa perhisan seperangkat
Setelah acara lamaran selesai kemudian diteruskan pembicaraan mengenai serah uang san bawa tanda putus adalah merupakan unsure yang menentukan dalam rangkaian adat perkawinan betawi karena sebelum tanda bawa putus disepakati, mungkin saja maksud tersebut menemui kegagalan meskipun acara melamar sudah dlaksanakan bukan berarti si pemuda telah berhasil mengalahkan p[emuda lain yang juga menaksir si gadis.
Pada umumnya upacara ngelamar dilaksanakan pada hari rabu biasanya acara serah uang dan bawa tanda putus dilaksanakan pada hari rabu berikutnya atau hari minggukemudian setelah acara bawa tanda putus selesai selanjutnya kedua mempelai menyiapkan keperluan untuk upacara akad nikah
1. piara calon pengantin wanita . menjelang acara perkawinan calon pengantin wanita dirawat selama 1 minggu atau sepuluh hari acara ini dilakukan oleh seorang permpuan yang khusus menangani hal tersebut.selama perawatan calon pengantin minum jamu pengantin dan air sencang, memakai lulur, serta menjalani beberapa pantangan. Pantangan tersebut antara lain tidak boleh becermin, tidak boleh mandi,tidak boleh menukar pakaian,dan tidak boleh memakan makanan yang digoreng itu demua simaksudkan agar calon pengantin menjadi singset atau langsing sehingga kelihatan cantik, wajahnya bercahaya, dan tidak banyak mengeluarkan banyak keringat.Sehari sebelum acara akad nikah calon pengantin wanita dimandikan yang disebut acara siraman . sebelum acara mandi , calon pengantin minta izin orang tuanya dengan menemuinyadan ciun tangan.
Perlengkapan yang dipakai untuk siraman adalah :kembang tujuh rupa (kembang setaman),paso tanah,gayung batok, pedupaan dengan setanggi, serta bangku pensek untuk duduk. Adat Betawi ditandai dengan serangkaian prosesi. Didahului masa perkenalan melalui Mak Comblang. Dilanjutkan lamaran. Pingitan. Upacara siraman. Prosesi potong cantung atau ngerik bulu kalong dengan uang logam yang diapit lalu digunting. Malam pacar, mempelai memerahkan kuku kaki dan kuku tangannya dengan pacar.

Perkawinan Adat Pengantin Betawi
Puncak adat Betawi adalah Akad nikah. Mempelai wanita memakai baju kurung dengan teratai dan selendang sarung songket. Kepala mempelai wanita dihias sanggul sawi asing serta kembang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepasang burung Hong. Dahi mempelai wanita diberi tanda merah berupa bulan sabit menandakan masih gadis saat menikah. Mempelai pria memakai jas Rebet, kain sarung plakat, Hem, Jas, serta kopiah. Ditambah baju Gamis berupa Jubah Arab yang dipakai saat resepsi dimulai. Jubah, Baju Gamis, Selendang yang memanjang dari kiri ke kanan serta topi model Alpie menandai agar rumah tangga selalu rukun dan damai.

Prosesi Akad Nikah
Mempelai pria dan keluarganya datang naik andong atau delman hias. Disambut Petasan. Syarat mempelai pria diperbolehkan masuk menemui orang tua mempelai wanita adalah prosesi ‘Buka Palang Pintu’. Yakni, dialog antara jagoan pria dan jagoan wanita, kemudian ditandai pertandingan silat serta dilantunkan tembang Zike atau lantunan ayat-ayat Al Quran.

Pada akad nikah, rombongan mempelai pria membawa hantaran berupa:
1.sirih,nanas, gambir, pala, kapur dan pinang. Artinya segala pahit, getir, manisnya kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama antara suami istri.
2.Maket Masjid, agar tidak lupa pada agama dan harus menjalani ibadah shalat serta mengaji.
3.Kekudang, berupa barang kesukaan mempelai wanita misalnya salak condet, jamblang, dan sebagainya.
4.Mahar atau mas kawin dari pihak pria untuk diberikan kepada mempelai wanita.
5.Pesalinan berupa pakaian wanita seperti kebaya encim, kain batik, lasem, kosmetik, sepasang roti buaya. Buaya merupakan pasangan yang abadi dan tidak berpoligami serta selalu mencari makan bersama-sama.
6.Petisie yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta, misalnya wortel, kentang, telur asin, bihun, buncis dan sebagainya.

Akad nikah dilakukan di depan penghulu. Setelah itu ada beberapa rangkaian acara:
1. mempelai pria membuka cadar pengantin wanita untuk memastikan pengantin tersebut adalah dambaan hatinya.
2. Mempelai wanita mencium tangan mempelai pria.
3. Kedua mempelai duduk bersanding di pelaminan.
4. Dihibur Tarian kembang Jakarta
5. Pembacaan doa berisi wejangan untuk kedua mempelai dan keluarga kedua belah pihak yang tengah berbahagia.

Setelah acara akad nikah seledai, kemudian rombongan pengantin laki- laki pulang dan dibekali bermaca-macam makanan matang dari keluarga pengantin permpuan . keesokan harinyapengantin perempuan didandani untuk menerima tamu undangan tamu tersebut biasanyapara ibu dan teman dekatnya. Pada saat menerima tamu pengantin berganti-ganti pakaian.

Acara Kebesaran
Acara kebesaran merupakan acara puncak pesta perkawinan. Pada saat itu kedua mempelai duduk bersanding dipuadai.
Kehadiran pengantin lak- laki kali tidak diarak lagitapi hanya diantar oleh teman- temannya dan beberapapasang oleh wakil dari pihak keluarga. Sementara itu pengantin perempuan didandani dengan dandanan rias besar.
Pengantin permpuan bagian kepalanyaditutup dengan kerdung pengantin yag dibuat dari kain tulehalus, selanjutnyaia dituntun oleh tukang piara pengantin ketaman pengantin dan duduk dipelaminan.menunggi kedatangan pengantin laki- laki.setelah pengantin laki- laki datangia segera disambut oleh tukang piara pengantin dan dibawa menuju tempat pelaminansetelah sekat dengan rempat duduk pengantin perempuan menyambut pengantin laki-laki . pengantin laki-laki memberi salam sambil menyembah sirih dare, kemudian diterima oleh pengantin perempuan sambil mencium tangan pengantin laki-laki kemudian sirih dare diserahkan kepada tuakang piara penagntin.
Setelah selesai diteriam sirih dare kedua penagnti duduk dipelaminan pesta ini berlangsung ditempat pengantin permpuan dan ditempat pengantin laki-laki sedangkan waktunya dapat disepakati kedua belah pihak.

Malam Negor
Malam berikutnya setelah selesai acara kebesaran dirumah pengantin perempaun , pengantin laki- laki diizinkan menginap dikeluarga pengantin permpuan selama tnggal dirumah pengantin permpuan kedua mempelai tidak boleh mengumpul sebagai suami istri bahkan pengantin perempaun harus tahan tidak doleh bertegur sapa dengan duaminya. Untuk mengajak agar sang istri mau bicara atau tersenyum maka suami memberikan sejumlah uang yang disebut uang tegor. Cara memberiakn uang tegor yaitu, uang nya diltakkan dibawah taplak mmeja didalm kamr pengantin . malam negor ini dapat berlangsung sampai beberapa hari hal ini mengidyaratkan bahwa dang istri bukan perempuan gampangan selain itu juga saling mengenal decara mendalam.

Pulang tiga hari dan acra laksa pengantin
Acra tiga hari ini artinya setelah tiga hari menikah , pengantin perempuan akan dijemput. Dan dibawa kerumah pegantin laki- laki dan dijemput oleh pihak keluarga laki-laki. Akhir dari serangkaian pesta pihak orang tua laki mengucap syukur.

Pengertian roti buaya
Roti buaya dalam upacra perkawinan adapt betawi melambangkan kesetiaan . roti ini dibentuk dengan ukuran tertentu dan mempunyai cirri tertentu pula roti buaya cenderung tidak memiliki rasa yg khas dan digunkan sebagai hiadan dan lambang acara perkawinan.

adat dan kebiasaan warga Betawi Saat Hamil
Ada beberapa adat dan kebiasaan warga Betawi. Seperti saat wanita hamil pertama adalah masa yang paling mendebarkan bagi seorang perempuan karena pengalaman dalam melahirkan baru akan terjadi pertama kali. Apa saja yang dianjurkan oleh orang lain harus dilaksanakan meskipun anjuran itu tidak rasional. Seperti, menggantung gunting kecil serta ramuan seperti bumbu dapur yang di simpan di dada.Ada juga pantangan-pantangan yang memang menimbulkan akibat kalau tidak dilaksanakan. Seperti, dilarang membunuh binatang, mencela orang cacat dan berbagai pantangan lainnya. Maksudnya agar si bayi lahir dalam keadaan selamat tanpa cacat.

Upacara Adat Nujuh Bulan
Upacara seperti ini tidak diwajibkan untuk dilakukan upacara nujuh bulan diadakan bagi para ibu yang sedang hamil anak pertamanya,setelah kehamilannya beumur tujuh bulan pihak keluarga mengadakan upacara atau selamatan ,selamatan artinya kegiatan memeperingati peristiwa atau memohon keselamatan upacara nujuh bulan dilaksanakan dengan tujuan memohon kepada tuhan yg maha esa .permohonannya agar anak yang berada dalam kandungan selamat,selalu sehat,dan diveru kelancaran pada saat ibu melahirkan didoakan juga agar anak tersebut menjadi anak yang saleh, taat menjalankan ibadah,dan berbakti kepada orang tua.
Berikut ini tahap-tahap utama menjalankan upacara nujuh bulanan:
Sebelum upacara dimulai pihak keluarga mempersiapkan ala dan bahan yang diperlukan , antara lain :
a.tempat menampung air untuk mandi
b.gayung yg biasanya terbuat dari tempurung kelapa
c.kain batik
d.bangku untuk duduk sang ibu
e.rujakyg terbuat dari tujuh macam buah
f.urap yg dinuat dari tujuh macam sayuran
g. nasi putih
h.gulai kambing
i. beberapa jenisikan asin
j. kacang-kacangan

2. tahap pelaksanaan
pihak keluarga mengundang sanak saudara dan tetangga untuk membacakan doa-doa .upacara dimulai dengan membaca doa yg diambil darikitap suci Al-qur’an antara lain surat yasin, surat yusuf, dan surat maryam surat ini dibacakan senagai ungkapan rasa syukur kepada tuhan yg maha esa,terutama atas keselamatan hingga usianya mencapai tujuh bulanan . surat yusuf dibacakan dengan harapan apabila lahir anak laki-laki, deberikan ketampanan, ketabahan, dan kesalehan sepertu nabi yusuf. Surat maryam dibacakan dengan harapan apabila lahir bayi perempuan diberikan kecantikan, ketabahan, kesalehan seperti maryam ibu nabi isa as. Setelah selesai membacakan doa-doa selanjutnya ibu hamil dimandikan. Ibu hamil mengenakan kain batik, lalu duduk dikursi yg telah disediakan.pemuka agama membacakan doa lalu menyiramkan air kembang kepada ibu hamil .selanjutnya anggota eluarga terdekat menyiramkan air secara bergantian . misalnya suami,ibu kandung,bapak kandung,ibu mertua,bapak mertua,keluarga dekat lainnya.

3. Tahap penutupan
Setelah acara siraman, ibu hamil dan para undangan kembali keruang depan. Lalu dibacakan doa penutup untuk mengucap syukur teah diberikan kelancarandalam pelaksanaan acara nujuh bulanan.
Selanjutnya, upacara nujuh bulan memasuki tahap akhir atau penutup .tahap akhir ditandai oleh tuan rumah y membagi-bagikan makanan,seperti rujak dan urap kepada para sanak saudara dan undangan makanan tersebut dapat dimakan ditempat dan bisa dibawa pulang.

Tujuannya adalah:
1. Membina hubugan silaturahmi antara keluarga dan tetangga.
2. Selalu ingat kepada tuhan yg maha kuasa
3. Menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan

Pada waktu sang ibu melahirkan, biasanya ari-ari bayi sebelum dikuburkan oleh ayahnya terlebih dulu diberi ramuan kembang tujuh rupa. Si bayi yang lahir diadzani di telinga kanan dan diqomati di telinga kiri. Satu minggu kemudian diadakan sedekahan puputan, dan pemberian nama.

Akikah
Kalau mampu mereka melaksanakan akikah: untuk bayi laki-laki harus memotong dua ekor dan bayi perempuan seekor kambing. Di masjid-masjid perkampungan, biasanya orang-orang duduk bersimpuh melingkar. Lalu seseorang membacakan Berzanji, yang pada bagian tertentu disahuti oleh jemaah lainnya secara bersamaan. Di tengah lingkaran terdapat nasi tumpeng dan makanan kecil lainnya yang dibuat warga setempat secara gotong-royong. Terdapat adat sebagian masyarakat, dimana pembacaan Berzanji juga dilakukan bersamaan dengan dipindah-pindahkannya bayi yang baru dicukur selama satu putaran dalam lingkaran. Sementara baju atau kain orang-orang yang sudah memegang bayi tersebut, kemudian diberi semprotan atau tetesan minyak wangi atau olesan bedak.
Setelah bayi berusia 40 hari diadakan selamatan yang disebut upacara ”bebersih”. Selamatan bebersih ini dimaksudkan untuk saling memaafkan dari pihak keluarga yang melahirkan — terutama wanita yang melahirkan — kepada dukun beranak (peraji) yang telah menolong waktu melahirkan dan merawatnya selama 40 hari. Sebagai penghormatan, peraji disuruh memberikan nama kepada bayi tersebut. Sesudah itu ada upacara ‘nginjak tanah’.

Khitanan
sunatan termasuk upacara adat yang penting dirayakan bagi warga Betawi. Upacara itu pun digelar dalam nuansa tradisional dengan menampilkan tata upacara dan kesenian khas Betawi. Di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, baru-baru ini, salah satu warganya menggelar acara tersebut untuk melestarikan budaya Betawi.

Acara keliling kampung itu berakhir di rumah sang pengantin sunat. Di tempat tersebut, sejumlah pendekar cilik telah menunggu dan tidak langsung membiarkan sang pengatin sunat memasuki rumahnya. Sebab, rombongan pengantin harus melewati pendekar cilik dengan bertarung. Akhirnya, para pengawal sang pengantin sunat pun bertindak. Sebelum mereka berkelahi ala silat Betawi, kedua pendekar harus bersilat lidah dahulu melalui sejumlah pantun berbahasa Betawi.

Perkelahian pun terjadi setelah mereka berpantun dan sang pendekar yang menjaga rumah pengantin sunat akhirnya kalah. Kekalahan pendekar tuan rumah itu adalah simbol para tamu untuk dipersilahkan masuk. Selain musik dan tradisi lisan khas Betawi, upacara adat ini pun dilengkapi dengan penganan khas Betawi, seperti soto Betawi atau ketupat sayur.
Sunat alias khitan bagi orang Betawi adalah upacara memotong ujung kemaluan anak lelaki dalam ukuran tertentu. Prosesi upacara penganten sunat Betawi terbagi dua yaitu :
A. Sebelum Sunat
1. Rembukan (dihadiri oleh kedua orang tua, sesepuh kampung dan anak yang mau disunat). Dalam rembukan yang dibicarakan antara lain : si anak ditanya apakah sudah siap atau belum, kalau siap di sunat mau di arak atau tidak, di araknya pakai tandu atau kuda, kemudian hiburan apa yang mau ditonton sehabis sunat. Setelah itu, orang tua di bantu sesepuh kampung mencari Bengkong (dukun sunat). Di usahakan mencari Bengkong yang senior karena pengalamannya yang sudah banyak dan do’anya mustajab
2. Ngundang Tamu. Biasanya orang Betawi mengundang tamu dengan cara Jotan, yaitu mengantarkan nasi lengkap dengan laut pauk seperti ikan, semur telor dan ayam bekakak kepada sesepuh kampung, tokoh masyarakat, saudara tua dan kaum kerabat. Nah, pihak yang diundang dengan cara jotan ini berarti mendapat amanat untuk meneruskan undangan ke saudara dan tetangga lain.
3. 2 hari sebelum Sunat. Biasanya sanak kerabat berkumpul untuk merangkai janur dengan iringan shalawat/marawis
4. 1 hari sebelum Sunat di adakan acara Arak-Arakan. Tujuannya untuk memberi hiburan serta semangat bagi anak yang mau disunat.
Perlengkapan acara arak-arakan :
• Pakaian sunat lengkap : jubah, gamis, selempang, alpie (sorban haji) serta alas kaki
• Pembaca shalawat dustur
• Rombongan rebana ketimpring
• Kuda atau tandu hias
• Delman hias
• Grup ondel-ondel atau tanjidor
Urutan acara arak-arakan :
1. Sebelum di arak, di depan pintu rumah calon manten sunat di bacain shalawat dustur
2. Di arak dengan rebana ketimpring dan shalawat badar menuju kuda/tandu hias
3. Manten sunat naik kuda/tandu dan teman-temannya mengiringi naik delman
4. Urutan jalannya : paling depan ondel-ondel, grup tanjidor, kuda/tandu penganten sunat, delman hias, rebana ketimpring dan paling belakang rombongan tetangga dan orang kampung
5. Sampai kembali di rumah, ada acara pantun bersambut dan silat betawi oleh pendekar cilik
6. Penganten sunat masuk ke dalam rumah disambut dengan taburan bunga dan uang. Maksudnya agar kelak si anak suka beramal.
Beberapa hari sebelum acara sunat, anak tidak boleh banyak berlari dan berlompat-lompatan agar darah yang keluar saat di sunat tidak banyak
B. Hari Pelaksanaan Sunat
1. Pagi hari setelah shubuh anak di suruh berendam di kali, kolam atau bak mandi. Tujuannya sebagai pengganti bius dan agar kebal dari sakit
2. Setelah 1-2 jam berendam. Anak dipersiapkan untuk di sunat.
3. Pada saat anak akan disunat, orang tua biasanya datang untuk bertanya tentang keinginan anak. Kemudian disisinya telah disiapkan ayam bekakak yang nantinya akan dimakan bersama kawan-kawannya setelah disunat nanti.
4. Biasanya Bengkong pandai menghibur dan bercanda, sehingga si anak tidak menyadari kalo proses sunatannya sudah selesai. Alat yang dipakai Bengkong biasanya hanya berupa piso sunat dan dua batang bambu ukuran sumpit yang disebut bebango atau bango-bango. Selesai di sunat, Bengkong akan menaburi obat antibiotik yang dibuat dari bahan-bahan alami.
5. Bagi orang Betawi ada beberapa pantangan bagi anak yang habis di sunat yaitu : tidak boleh makan ikan asin atau makanan yang terbuat dari udang. Selain itu tidak boleh melangkahi tai ayam. Entah apa hubungannya antara melangkahi tai ayam dengan sunat. Yang jelas anak-anak yang sunat tidak berani melangkahi tai ayam.
6. Sementara si anak di sunat, di luar diadakan acara motong ayam jago dan nyalain petasan. Tujuannya untuk memecah konsentrasi anak yang belum disunat agar tidak mendengar jeritan kesakitan dari dalam. Selain itu, suara petasan itu maksudnya sebagai kabar kepada tetangga bahwa pelaksanaan sunat sudah selesai
7. Selesai di sunat, si anak akan memperoleh hadiah dari kakek, nenek, encang, encing, famili lain dan para tetangganya. Setelah itu dilaksanakan selametan atau tahlilan. Hidangan utama khitanan biasanya nasi kuning. Nasi kuning Betawi terbuat dari beras ketan dan lauk pauknya berupa semur daging, acar kuning, serondeng, bawang goreng, dan emping melinjo tetapi yg khas adalah soto betawi.
8. Selepas shalat zuhur, diadakan resepsi dengan hiburan ondel-ondel
9. Selepas shalat maghrib, di gelar tontotan lenong, topeng betawi dan sohibul hikayat. Ada juga yang nanggap wayang kulit Betawi atau yang lainnya sesuai dengan permintaan si penganten sunat.

Bagi orang Betawi, melaksanakan resepsi khitanan dilakukan hanya untuk anak lelaki pertama saja atau sulung, anak lelaki lain yang disunat tidak lagi dirayakan besar-besaran, paling-paling bikin selamatan tahlil dan maulid saja.