Buatmu Ibu , dari anakmu…. Kasihmu tak mungkin ku lupakan, cuma kadang2 aku khayal dalam arus duniawi. Tatkala nasihatmu menjadi titisan hangat ditelingaku. Tatkala aku lupa dengan nasihatmu. Dosakah aku sebagai anakmu Ibu?…Aku merintih, menangis, mengenang diri ini. Layakkah aku menjadi anakmu?…Kau senantiasa mendo’akan kesejahteraanku. Do’amu tak pernah putus walau aku lena dalam tidurku. Sholatmu senantiasa berakhir dengan do’a untukku. Suaraku tak pernah hilang ditelingamu.Kasih sayangmu tak pernah reput ditelan zaman. Namun anakmu ini sering lupa akan itu. Layakkah aku jadi anakmu?…Air mata ini menitis tatkala aku terkenangkan mu, Ibu. Kasihmu sungguh murni tak terbanding kasihku untukmu. Layakkah aku dipanggil anakmu? Tatkala aku bersedih ,kau senantiasa disisi, menenangkan puterimu ini. Tatkala aku menangis, meratapi kehilangan permintaanku, kau senantiasa disisi memujukku. Tatkala aku memberontak mahukan sesuatu, tanganmu pantas mencarinya untukku. Mampukah aku melakukan semua itu tatkala kau pula memerlukanku? Jika tidak, layakkah aku menjadi anakmu, Ibu? Ibu, mengapa nasibmu sebegini?…mendapat anak sepertiku ? Layakkah aku dipanggil anakmu, Ibu ? Ibu sudikah kau menerima anakmu ini?…Kau sesali diri ini..Semakin melupakanmu. Layakkah aku dipanggil anakmu , Ibu?…Kata2 mu sering menenangkanku suatu ketika dahulu. Menyejukkan hati yang sedang gundah gulana. Memadamkan api yang sedang marak menyala. Menyapu air mata yang bergelimang dipipiku. Kini, tatkala aku telah dewasa. Aku mulai lupa akan kata2 mu. Nasihatmu aku lempar, Kasihmu kubiarkan terapung dilautan. Panggilanmu kusahut dengan amarah. Ibu, layakkah aku dipanggil anakmu?…maafkanlah anakmu ini, maafkan dosa anakmu ini. Ku sujud mohon ampun darimu, Ibu. Syukurku kupanjatkan karena aku masih berpeluang menemuimu lagi. Syukur kuucapkan karena aku masih berpeluang memelukmu lagi. Syukur kulafazkan karena aku masih berpeluang merasa kasih sayangmu lagi.Kasihmu sungguh suci, sayangmu sungguh murni. Kasihmu amat berarti. Ya Allah, kau tetapkanlah aku dijalan Mu…agar ku tak lupa asal usulku…moga ku tak lupa siapa yang membesarkanku. Moga dirimu, Ibu kan kekal dihatiku. Ibu, akanku gembirakanmu, akanku tebus kesilapanku. Akan ku kikis salutan yang menutup pintu hatiku selama ini. Akan ku campak bisikan syaitan yang ingin menggoda anakmu ini. Semua untukmu , Ibu. Layakkah aku menjadi anakmu dengan cara ini?…Sudikah kau memaafkan anakmu ini? Terima kasih Ibu …….

Advertisements