wartawan

Djakfar, seorang wartawan muda yang sangat aktif dan sangat menghargai waktu, mestinya memilih pendamping hidup dari kalangan perempuan yang mampu menerimanya apa adanya beserta keidealismeannya dalam menjalankan pekerjaan.
Sayang, jodohnya ternyata wanita yang gemar bermimpi dan selalu berkhayal menjadi orang yang serba berkecukupan dalam kehidupan. Akibatnya, suaminya dipaksa memenuhi keinginan-keinginannya. Tak peduli termasuk pelanggaran kode etik atau bukan. Karena dalam benak sang istri, kode etik wartawan itu untuk suaminya. Bukan untuknya. Maka, tak salah kalau dia melakukan apa yang diperaninya sekarang. Untung sang suami bisa bertahan, meski harus banyak melalap hatinya. Bukan sekadar makan hati.
Terkadang, sambil menulis berita di kantornya, Djakfar sering menggerutu dan berteriak. Setahu teman-temannya itu karena dikejar deadline. Padahal, dia sesungguhnya menyesali mengapa dulu terlalu buru-buru melamar wanita yang baru dikenalnya sekitar lima bulan. Sayang , sekarang semuanya diangapnya telah terlambat. Apalagi, seorang putri telah hadir di tengah mereka.
Yang sering menangis tengah malam saat dia pulang ke rumah. Baru akan memelekkan mata, tangisan putrinya membuatnya terbangun. Setengah terpejam, dia menjawil istrinya agar mengelus kepala sang putri.

Terkadang jawilan itu justru membuat suasana menjadi lain. Karena sesungguhnya tak ada waktu di siang hari untuk bermesraan. Nah, waktu itulah merupakan kesempatan untuk menikmati rasa memiliki istri.
Terkadang pekerjaan belum selesai, sang putri terbangun kembali. Terpaksa pekerjaan suami-istri itu dihentikan terlebih dahulu. Sambil memandang sang istri yang menyusui pewarisnya, Djakfar tersenyum sendiri.

Dan, kenangan pun berlabuh pada masa lalu saat pacaran. Ketika perempuan yang dia nikahi itu masih memiliki pandangan sama dengan dirinya dalam melihat kehidupan rumah tangga. Ketika Djakfar mengajaknya menikah, itu terjadi dua tahun lalu, jurnalis ini sudah menjelaskan bahwa ia berbeda dengan rekan-rekannya yang lain yang tampak lebih mewah kehidupannya.
Ia ceritakan apa-apa yang tidak dia sukai termasuk rekan-rekannya seprofesi yang memanfaatkan kesempatan dari orang-orang yang gila publikasi ataupun mereka-mereka yang punya jabatan dan kekayaan namun takut kalau belangnya diketahui umum.
”Saya tidak bisa menikmati hidup dengan memanfaatkan ketakutan orang-orang. Atau mengambil manfaat dari orang yang ingin dipuji-puji dengan tulisan yang manis-manis dan mampu membubung ke langit,” kata Djakfar. Masih banyak hal yang dijelaskan Djakfar sebelum perempuan itu dia nikahi, dan semuanya diungkapkan agar perempuan itu memahami orang seperti apa yang akan menjadi suaminya kelak. Selain tak mungkin kaya, juga sangat sedikit punya waktu untuk keluarga.
Selayaknya para gadis muda yang selalu terlihat lugu dan terkesan sangat memaklumi Djakfar, perempuan itu mengangguk-angguk. Dari caranya mengangguk, Djakfar menarik kesimpulan bahwa perempuan itu mengerti dan paham kehidupan seperti apa yang akan dilakoni jika menjadi istri seorang wartawan.
Tapi, setelah berjalan dua tahun dan seorang anak hadir di antara mereka, segalanya berubah termasuk cara perempuan itu berpikir dan memandang kehidupan ini. Tiap sebentar ia selalu mengeluhkan perabotan-perabotan yang kurang lengkap dan tidak seperti milik teman-teman seprofesinya suaminya yang lain.
”Soal pekerjaan sama, tetapi perabotannya lebih komplit. Ada tv, kulkas, VCD, handphonenya bagus, sepeda motor, bahkan mobil. Kita apa, makan saja susah,” itu yang kerap menjejali telinga Djakfar.
Mula-mula Djakfar mengingatkan istrinya tentang komitmen mereka saat berpacaran, tetapi istrinya selalu mematahkan kalimat-kalimatnya dengan mengatakan, ”Itu dulu, sekarang lain.” Terkadang ketus, seringkali sedikit manja. Istrinya juga membuat perbandingan-perbandingan sehingga Djakfar sangat terpukul, kecewa, dan tak bisa berkata apa pun.
Perubahan istrinya yang drastis membuat Djakfar tidak bisa menerimanya dan menjadi sangat terpukul, tetapi tidak membuat wartawan itu kehilangan akal sehat. Di luar rumah, dalam menjalankan pekerjaannya, tetap saja sebagai wartawan yang baik dan jujur. Kejujurannya itu sudah diketahui teman-teman seprofesinya, dan mereka menyebutnya sebagai wartawan yang idealis dan tak kenal kompromi. Alias bodoh. Meskipun ia sering mendengar julukan itu ditujukan kepadanya, tidak membuatnya tersinggung karena ia berpikiran sebaliknya, rekan-rekannyalah yang keliru.
Kekeliruan mereka adalah kekeliruan seorang manusia yang tidak bisa mengendalikan pikiran-pikiran dan mimpi-mimpinya, sehingga semua yang mereka lakukan dikerjakan tanpa memedulikan hati nurani. Sikap seperti itu membuat Djakfar tetap bertahan meskipun rekan-rekan seprofesinya mengucilkannya, memperlakukannya seperti orang yang memiliki banyak kesalahan dalam hidup dan seolah-olah kesalahan-kesalahan itu tidak bisa lagi dimaafkan.
Sungguh, kalau bukan Djakfar, pastilah perlakuan-perlakuan seperti itu sudah lama menimbulkan persoalan besar. Djakfar sadar betul soal itu meskipun tidak pernah mempersoalkannya, dan tetap berlaku seperti biasanya karena ia yakin tidak ada kesalahan dari apa yang pernah dilakukannya selama ia masih berada dalam jalur yang sudah digariskan profesinya. Satu-satunya kesalahan yang disadari betul adalah membiarkan rekan-rekannya menganggapnya selalu melakukan kekeliruan dalam hidup.
Bukan berarti ia tidak pernah berusaha meyakinkan mereka bahwa anggapan mereka itulah yang keliru, tetapi setiap ia berupaya menjelaskan hal itu mereka langsung menunjukkan sikap tidak senang. Tidak jarang mereka langsung marah-marah, mengajak Djakfar berkelahi seperti anak kecil yang cepat naik darah karena mainannya direbut. Kalau sudah begitu, Djakfar biasanya memilih diam, membiarkan seribu caci-maki ditujukan kepadanya. Karena sudah terbiasa, ia tidak akan gampang tersinggung, malah tersenyum lebar sambil mengerjakan pekerjaannya yang tak habis-habisnya. Mengetik di keyboard komputer. Kalau saja menggunakan mesin tik, pastilah tuts huruf akan ditekannya keras-keras.
Karena komputer, ia takut rusak. Kalau rusak, biasanya dibebankan kepada pengguna komputer. Dipotong gaji. Karenanya, dia tetap pelan-pelan menekan huruf dan angka di keyboard komputernya. Pelariannya, cuma sekadar main game sambil maling-maling waktu. Karena main game pun kalau ketahun akan dipersoalkan saat rapat bulanan. Apalagi, kalau saat tiba deadline ternyata masih ada berita yang masih diketik. Kambing hitamnya pastilah karena ada yang sering main game saat jam kerja.
Djakfar tidak pernah berubah. Ia tegar dan kuat mempertahankan prinsip-prinsipnya. Ia tidak memosisikan diri untuk selalu mendukung kerja pemerintah dan menginformasikannya kepada masyarakat. Ia lebih mendengarkan dan memedulikan kepentingan rakyat banyak karena itu memang tuntutan profesinya. Ia lebih banyak melakukan kontrol sosial terhadap segala bentuk penyimpangan.
Kebutuhan anak dan istri terpenuhi, itu lebih dari cukup. Djakfar sadar ia cuma seorang wartawan yang terkadang bisa memperjuangkan orang lain tetapi tidak bias memperjuangkan diri sendiri. Terbukti, banyak rekan-rekannya yang begitu gagah memberitakan kekerasan ataupun penindasan bawahan oleh atasanya, tak mampu membela diri ketika di kantor mendapat perlakuan yang sama dari atasan.
Gaji kecil dan kebutuhan keluarga banyak. Istrinya, karena ia istri seorang wartawan, selalu ingin kelihatan seperti istri seorang pemilik koran.
Ia sudah memakluminya. Istrinya selalu membandingkan isi rumah mereka dengan isi rumah rekan-rekan yang biasanya dikunjungi saat arisan bulanan. Memang, kalau soal jam terbang, Djakfar tidak berbeda dengan rekan-rekannya. Tapi, soal kemewahan, jelas sangat menonjol perbedaannya. Rata-rata kawan-kawan seprofesinya, yang memulai profesinya sama, sudah punya berbagai macam harta benda mewah.
Djakfar tidak bisa seperti itu. Karena dia memang tak sanggup untuk itu. Ketidak-sanggupan inilah yang selalu menjadi alasan istrinya untuk memulai pertengkaran. Tentu saja Djakfar tidak suka istrinya bersikap begitu. Itu sebabnya ia tidak pernah meladeni dan membiarkan saja istrinya mengomel. Terkadang ia pikir, kalau sehari saja tidak mengomel, istrinya merasa belum lengkap sebagai istri. Makanya, ia biarkan saja sampai seluruh kata yang ada di kamus dia keluarkan, sampai ia muntah sekalian.
Djakfar tidak peduli. Ia kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Kalau tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, ia akan mengajak anaknya bercanda meskipun hal ini sering membuat istrinya bertambah marah. Ia akan menarik anak mereka dari tangannya, lalu kembali mengomel yang intinya menyuruh Djakfar keluar rumah melakukan apa saja yang bisa dilakukan agar ada uang tambahan.
Djakfar tidak bodoh, meskipun ia keluar juga akhirnya tapi dia tidak melakukan seperti yang diharapkan istrinya. Dia keluar ya mencari informasi. Lalu ke kantor menulis berita. Dan selama ini memang waktunya sangat padat.
Ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sambilan, takut justru nanti dia kebobolan berita. Media lain dapat berita dia justru tidak dapat. Bisa jadi, selain akan disemporot saat rapat redaksi dia juga bisa-bisa kena sanksi yang beragam. Dan itu sudah dilihatnya dierima rekan-rekannya sekantor.
Sebagai wartawan lapangan, Djakfar sudah ditugaskan di berbagai desk. Pernah di polisi, di rumah sakti, perbankan, pendidikan, kriminal, atau khusus membuat tulisan ringan.
Telah berkeringat darah rasanya dilakukan Djakfar. Dia pun telah beristri dua. Istri pertama, yang selalu ngomel dengan berbagai tuntutan, dan istri kedua adalah profesinya yang menuntut harus siap 24 jam dengan mata dan telinga terbuka maupun kaki dan tangan yang dalam kondisi siap. Dia telah berusaha untuk bersikap adil kepada kedua istrinya itu.
Namun darahnya itu rasanya tak cukup bagi kantornya. Apalagi, semakin hari ternyata, Djakfar seolah lesu darah. Liputan dan laporannya tidak bernas dan menarik lagi. Dari kuantitas, tak memenuhi target. Sampai akhirnya berdasarkan evaluasi terakhir, dia dinyatakan tak layak.
Percuma juga protes. Dengan status karyawan kontrak, akhirnya setelah kontrak terakhir lewat masanya, tak ada kekuatan untuk menahan GM di korannya untuk memutus kontrak.
Djakfar pun sesungguhnya masih bernasib lebih baik. Masih banyak rekannya yang lain ternyata justru bekerja tanpa sehelai kontrak pun. ”Masih mending saya, ternyata ada tiga kontrak kerja yang sempat saya pegang,” ujar Djakfar dalam hati menghibur dirinya dalam perjalanan ke rumah membawa berita pemecatannya.
Kini, tak ada lagi kata konfirmasi, cek dan ricek dalam kesehariannya. Justru yang melakukan konfirmasi adalah pihak kepolisian dan rumah sakit yang menanyakan ke kantor apakah benar sesosok mayat yang ditemukan menjadi korban tabrak lari masih wartawan dari media tersebut. Lalu kantor pun menginformasikan berita itu ke istri Djakfar, sebelum akhirnya berita naas itu pun dibaca banyak orang melalui surat kabar.