no-one-knows

Hidup mengasah kedewasaan kita
Kita bisa belajar dari siapa pun dan di mana pun. Selama kita masih hidup di dunia, berarti masih ada kesempatan untuk belajar di sekolah kehidupan yang bisa kita lakoni sepanjang usia kita. Melintasi setiap jengkal peristiwa yang akan memberikan hikmah bagi kehidupan kita. Kita bisa belajar tentang hidup dan kehidupan dari siapa saja. Tentu, selama hal itu memang bermanfaat bagi kita dan bernilai pahala di sisi Allah Swt.

Yup, layaknya sekolah tempat kita menimba ilmu, sekolah kehidupan akan memberikan polesan dalam kepribadian kita. Bahkan akan lebih banyak dan lebih luas lagi jangkauan dan juga multidimensi. Nyaris nggak ada blank spot-nya deh. Nah, salah satu dari hasil didikan di sekolah kehidupan itu insya Allah bakalan mengasah kedewasaan kita. Jujur aja nih, hidup di dunia emang nggak lurus-lurus aja. Kalo lurus terus, kayak jalan tol, rasa-rasanya mungkin kita nggak akan belajar dan bahkan melalaikan atau menyepelekan kehidupan ini. Karena udah merasa enak, nyaman, dan nggak banyak halangan. Itu sebabnya sering menganggap gampang dan ujungnya nggak bakalan bisa mengasah pribadi kita dengan lebih baik dan benar. Kita mungkin saja nggak bisa dewasa karena nggak pernah merasakan “lika-liku” kehidupan di dunia ini. Justru dengan “gelombang” kehidupan itulah seenggaknya kedewasaan kita mulai akan terasah dengan baik.

Kalo kita ngelihat di perempatan jalan, betapa banyak pengamen dan pengemis yang mencari makan di sana. Nggak usah kita berburuk sangka kepada mereka dengan menyebut mereka pemalas. Belum tentu, karena siapa tahu mereka berbuat demikian karena memang nggak mampu kerja di tempat lain, sementara urusan perut begitu mendesak. Hanya itu yang bisa dilakukan mereka.

Terus, kita bisa berpikir dan mengukur diri sambil merenung, “Iya ya, saya bisa hidup enak. Seenggaknya untuk makan nggak perlu ngamen atau ngemis-ngemis. Bisa sekolah dan ortu kita masih kuat nyari nafkah.” Kesadaran seperti ini hanya mungkin tumbuh kalo kita tuh udah berpikir dewasa. Mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita pun bisa mengetahui dengan pasti dan yakin perbuatan apa saja yang terkategori terpuji dan perbuatan mana yang disebut tercela. Kesadaran dan pengetahuan yang ajeg seperti ini adalah hasil belajar kita memahami kondisi kita dan kehidupan kita. So, nggak berlebihan banget kalo sekolah kehidupan itu bakalan ngasah kedewasaan kita.

Oya, karena kita hidup di masyarakat dan kehidupan yang begitu luas, maka mau nggak mau, suka or nggak suka, pada akhirnya kita akan belajar dari sekolah kehidupan ini. Ya, benar. Sekolah kehidupan memang bisa mengajarkan dan membeberkan begitu banyak peristiwa dan fakta yang bisa kita rasakan dan bisa kita nilai. Ada yang baik, tentu banyak juga yang buruk. Berhadapan dengan dua fakta ini, kita seenggaknya bisa memilih dan menilai. Mana yang akan diambil, dan mana yang harus ditinggalkan. Pilihan dan keputusan ada di tangan kita dan kita memutuskan sesuai dengan pemahaman kita tentang kehidupan. Benar atau salah.

Bro, kita bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman Rasulullah saw. Banyak para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada Islam sangat besar. Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena kondisi kehidupannya mendukung. “Sekolah kehidupan” telah mengajarkan dan membentuk kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika sekarang banyak remaja yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik, itu juga karena model kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak benar. Gimana pun juga, individu itu pasti akan terwarnai oleh kondisi masyarakat. Kalo masyarakatnya rusak seperti sekarang, kayaknya udah alhamdulillah banget jika masih ada remaja yang selamat kepribadiannya, bahkan berani melawan arus kerusakan dan berupaya mengubahnya.

Sobat muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)

Nah, karena di sekolah kehidupan ini nggak seragam semuanya. Masih mungkin muncul perbedaan di antara kita yang sama-sama belajar di masyarakat, maka kedewasaan kita dalam menyikapi perbedaan harus terus dipoles. Tapi dengan catatan, perbedaan tersebut sebatas hal-hal yang mubah. Maka, di sekolah kehidupan kita bisa belajar untuk menghargai pendapat orang lain atau belajar menerima masukan dari orang lain. Bandingkan waktu kita masih kecil. Kita pengennya menang sendiri, ingin menguasai permainan dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena waktu kecil kita belum ngeh dan belum mengerti soal pergaulan dan hubungan dengan pihak lain. Lagian, anak-anak kan memang belum dewasa.

Selain itu, yang belum dewasa adalah ketika menghadapi kenyataan pesimis, cenderung menyerah, mudah putus asa, dan sikap negatif lainnya. Sikap seperti itu wajar kalo ‘menyerang’ anak-anak. Tentu, jadi nggak wajar kalo dalam diri mereka yang sudah dewasa masih ada hal-hal demikian. Tul nggak?

Meski demikian, karena di sekolah kehidupan ini memang nggak semuanya benar. Apalagi kehidupan saat ini adalah produk dari sistem kehidupan Kapitalisme-Sekularisme, maka belajar untuk dewasa dari sekolah kehidupan saat ini lebih berat dan harus lebih selektif lagi. Itu sebabnya, dibutuhkan bimbingan dan arahan dari mereka yang udah tahu dan paham mana yang keliru dan mana yang benar. Are you ready? Yes! (jawabnya kudu itu ya. Semangat!)

Jadilah yang terbaik
Sobat, menjadi baik saja belum cukup. Tapi harus menjadi yang terbaik. Upayakan sebisa mungkin. Kita bisa kok asal kita mau. Yakin deh. Lagian karena kehidupan itu adalah sebuah proses, maka kita akan jalani tahap demi tahap. Rasakan perbedaannya dari setiap tahap yang kita lalui.

Nah, karena setiap manusia itu saling mempengaruhi satu sama lain, maka dalam menjalani kehidupan ini nggak lepas juga dari proses benchmarking. Artinya, jika kita ingin tampil sukses seperti seseorang yang kita anggap berhasil dalam hidupnya, maka kita akan menerapkan prinsip 3N. Apakah itu?

Niteni, niroake, dan nambahi. Ini bukan bahasa Italia, tapi ini bahasanya Mbah Marijan. Niteni itu artinya mengamati, niroake artinya menirukan, dan nambahi boleh dibilang modifikasi. So, biar lidah nggak keseleo gara-gara nggak biasa ngomong Jawa, kita sepakati aja dengan istilah ATM alias Amati, Tirukan, dan Modifikasi. Setuju ya?

Nah, untuk jadi yang terbaik dalam kehidupan ini, pastinya kita pernah ukuran siapa yang dianggap menurut kita terbaik dan perlu dicontoh, maka kita akan melakukan benchmarking. Pertama banget, kita kudu amati perilakunya, juga kebiasaannya. Kemudian tirukan apa yang dilakukannya untuk meraih sukses menjadi yang terbaik. Biar nggak disebut membebek, maka lakukan modifikasi untuk meraih sukses itu dengan kreasimu yang kamu ciptakan. Wuih, insya Allah keren deh!

Sekadar contoh nih, jika kamu ingin pinter dakwah dan sekaligus sukses di bidang akademik, teladani deh mereka yang udah berhasil di kedua bidang tersebut. Kamu amati kegiatan hariannya, cara belajarnya, dan sikap serta perbuatan baiknya. Kemudian kamu tiru semua kebaikannya. Oya, karena nggak ada orang yang sempurna dalam hidup ini, maka kalo ada yang kurang bagus dari karakter idolamu itu, kamu nggak usah contek, tapi bikin polesan lain dengan modifikasi hasil kreasimu. Jadilah diri sendiri, gitu lho. Oke?

So, bukan tak mungkin pula kalo masa depan bakalan menjadi milik kita. Tentu, masa depan yang penuh dengan prestasi terbaik dari segala yang telah kita impikan, cita-citakan dan upayakan dengan usaha keras untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupan ini. Insya Allah.

Oya, don’t forget, ukuran menjadi manusia yang terbaik bagi seorang muslim adalah: beriman kepada Allah Swt., bertakwa kepadaNya, bermanfaat bagi manusia lainnya, dan senantiasa bersemangat membela agamaNya dengan dakwah dan jihad. Siap ya?

Sumber: Dudung.net