Manusia lahir ke dunia dari sebelumnya tidak ada. Namun, setelah lahir, ia mencintai hidup dan kehidupannya. Lalu ia dihadapkan pada kenyataan, yakni kematian, batas akhir hidup yang senang atau tidak senang harus dijalaninya, sebagaimana kelahiran itu sendiri.

Kematian adalah keniscayaan hidup. Dan kematian merupakan pasangan dari kehidupan. Kegelisahan muncul bila diajukan pertanyaan, kapan kematian itu datang? Kematian datang pada tiap jiwa bak pencuri, yang menyelinap masuk lalu keluar menggondol ruh kehidupan dengan meninggalkan jasad yang tergolek tak berdaya. Kemudian, hidup terasa terlalu singkat. Banyak pekerjaan dan kewajiban yang belum terselesaikan.

Oleh karena itu, kematian identik dengan tragedi yang menorehkan kesedihan bagi yang ditinggalkan. ”Kematian pasti menyambangi tiap diri yang berjiwa.” (QS Al-Anbiya: 35). Malaikat maut sangat dingin mencabut sukma, tak pandang tua atau muda, dan tak ada penundaan walau sejenak. Apabila ajal manusia menjelang, maka tak ada penundaan dan percepatan. (QS Yunus: 49 dan QS An-Nahl: 61).

Kematian menjadi rahasia Allah SWT yang misterius agar ia menjadi lampu kuning bagi manusia supaya tidak ceroboh dalam mengisi hidup yang sementara ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Aku tinggalkan bagi kalian dua pemberi peringatan. Yang pertama memberikan peringatan dengan pembicaraannya. Yang kedua memberikan peringatan dengan kebisuannya. Yang pertama adalah Alquran dan yang kedua adalah kematian.”

”Katakanlah, sesungguhnya kematian yang dari situ kalian melarikan diri, sesungguhnya ia akan menemuimu juga.” (QS Al-Jumu’ah: 8). Meskipun demikian, kualitas takut akan kematian berbeda-beda. Ada yang takut mati karena ketenggelamannya dalam dunia. Tapi, ada pula yang takut mati karena belum merasa cukup bekal. Takut tipe kedualah yang patut dipelihara. Kualitas kematian sangat ditentukan oleh kesadaran (ketakutan) akan kematian itu. Sehingga, ada dua macam kematian, kematian yang membuat dirinya istirahat dan kematian yang membuat orang lain istirahat.

Bagi orang beriman, kematian menjadi istirahat panjang di tempat yang penuh damai. Kematian yang disambut senyuman sang mayat dan diiringi tangisan dari pelayat. Buat pendurhaka, kematian membuat semua makhluk beristirahat dari gangguannya. Kematian yang meledakkan tangis penyesalan sang mayat di liang kuburnya, tapi sekaligus disyukuri oleh semua manusia. Lalu, manakah macam kematian yang kita pilih sebagai penghujung catatan akhir hidup kita? ”Dia yang menjadikan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS Al-Mulk: 2).